This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

Tampilkan postingan dengan label Other. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Other. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juli 2013

Timing Light

cara menghubungkan timing light selain dibaterai

     Timing light merupakan alat yang digunakan untuk memeriksa dan menyetel saat pengapian sesuai dengan sudut putar poros engkol dimana secara langsung berhubungan dengan posisi piston Begitu saat pengapian disetel, selanjutnya  akan dikendalikan oleh system pengatur pegapian mekanik, vacuum atau elektronik.  Timing light yang digunakan bersamaan dengan meter pengatur pengapian memastikan system pemajuan pengapian bekerja sesuai dengan spesifikasi pabrik.


Cara Cara Menggunakan Timing Light untuk tuning mesin:
  1. Pasang kabel Plus timing (Penjepit buaya warna merah).
  2. Pasang kabel Min Timing( Jepitbuaya hitam).
  3. Pasang Induktif sensor pada kabel busi no 1, dengan mengaitkan saja.

Dwell Tester dan Tachometer


    Dweel tester dan tachometer merupakan dua buah alat yang diasatukan. Penyatuan kedua alat ukur ini dimaksudkan agar dapat digunakan secara bersamaan untuk mengukur sudut dweel/ sudut cam sistem pengapian menggunakan dweel tester dan untuk mengukur putaran mesin atau RPM (Rotary Per Minute) menggunakan tachometer. 

     Pengertian sudut dwell mengacu pada sudut pemutaran distributor selama kontak point tertutup. Sudut dwell harus diatur dengan benar sesuai spesifikasi pabrik, kalau tidak kerja system akan terganggu. Jika sudut dwell terlalu kecil (celah kontak point terlalu besar) koil pengapian mungkin tidak mendapat cukup waktu untuk membangkitkan medan magnit, yang akan menghasilkan tegangan sekunder yang lemah. Jika sudut dwell terlalu besar ( celah kontak point terlalu kecil ) tegangan induksi primer akan melompat diantara celah kontak point, bukannya mengisi kapasitor, collapsenya medan magnet pada coil menjadi lambat yang akan mengakibatkan tegangan scunder menjadi rendah.

     Keausan poros distributor atau mekanisme advancer dapat diidentifikasi dengan cara menaikkan putaran mesin atau memberikan kevacuuman yang berbeda pada unit vacuum dan mencatat variasi sudut dwell yang terbaca. Distributor yang memiliki perbedaan lebih dari 20 perlu diperbaiki.


Cara Kerja Tachometer 

Metode untuk mengukur data kecepatan putar pada tachometer : 
   1. Diukur langsung pada potensiometer. 
   2. Menggunakan penurunan waktu yang diambil untuk setiap pilihan celah yang dilewati cahaya laser. 

Keadaan Overflow 

   1. Apabila kecepatannya terlalu lambat counter dapat mengalami overflow atau penghitungan yang dimulai dari nol lagi. 
   2. Untuk mengatasinya perlu ditambahi rangkaian tambahan yang memiliki one-shot (pemacu) tambahan. 

Macam-Macam Tachometer 

1. Tachometer optik 
2. Tachometer Rotor bergigi 
3. Tachometer DC 

Pengoperasian Dwell Tester 

      Sambungan meter listrik biasanya ke terminal negatif coil pengapian dan massa. Skala arus harus dipilih sesuai jenis dan jumlah silinder. Hidupkan engine dan perhatikan pembacaan meter. Bila diperlukan stel celah kontak point. Periksa kembali pembacaan dwell meter.

Catatan:

  • Selalu ikuti petunjuk penggunaan bila menggunakan dwell meter dimana sambungan setiap meter dapat berbeda pada berbagai engine.

  • Sudut dwell pada system pengapian elektronik sudah tertentu dan tidak dapat disetel.

Minggu, 09 Juni 2013

Teknologi DRS dan KERS pada Formula 1


DRS (Drag Reduction System)

Saat regulasi Formula One musim 2011, ada dua benda menarik yang menjadi sorotan untuk musim ini, yaitu KERS (Kinetic Energy Recovery System) dan DRS (Drag Reduction System). Selain juga perubahan dari ban Bridgestone menjadi Pirelli, kedua alat ini menjadi perhatian semua penggemar F1 di seluruh dunia, karena pengaruhnya yang sangat besar dalam mengubah sebuah hasil atau menambah keseruan suatu balapan. Sekarang saya akan jelaskan kedua alat ini.





Diawali dari KERS. KERS adalah Kinetic Energy Recovery System, sebuah alat yang memanfaatkan tenaga yang terbuang dari pengereman menjadi tenaga baru yang dapat menambah power mesin. Alat ini sebenarnya bukan barang baru di F1. KERS pernah dicoba pada musim 2009, namun banyak tim yang tidak mau memakainya karena dapat menambah berat mobil dan bisa mengacaukan distribusi berat mobil. Akhirnya, alat ini disimpan dulu untuk riset lebih lanjut dan untuk musim 2011 alat ini kembali. KERS kali ini lebih baik daripada KERS yang sebelumnya, walaupun konsep pemakaiannya sama. Ketika mobil mengerem, tenaga yang terbuang dari pengereman itu lalu masuk kembali ke dalam mesin, dan lalu diubah menjadi tenaga baru oleh generator dan disimpan dalam sebuah baterai. Untuk mengaktifkan KERS, pembalap cukup menekan tombol yang ada di setir dan energi yang tersimpan di dalam baterai akan disalurkan ke dalam mesin, untuk menambah tenaga. Sekilas, teknologi ini mirip dengan Power Boost di balap mobil antar-negara A1GP. Bedanya, jika Power Boost sudah diset oleh insinyur Zytek sebelum balapan dan hanya dipakai terbatas, maka KERS harus mencari dulu tenaganya dari hasil pembuangan pengereman dan bisa dipakai kapan saja. Manfaat dari KERS cukup banyak. Bisa untuk menyalip, bisa untuk mempertahankan posisi, bisa untuk mempercepat waktu kualifikasi, dan lainnya. Paling penting sebenarnya adalah untuk mempermudah overtaking (secara di F1 jaman sekarang overtaking itu susah-susah gampang) tapi sesuai kata Sebastian Vettel dan Michael Schumacher, ada beberapa manfaat lain dari KERS, yang tadi sudah dituliskan di atas.




Inilah diagram KERS

Berikutnya, ini mungkin salah satu inovasi terbaik yang pernah ada dalam sejarah F1. DRS namanya. Istilah formalnya Drag Reduction System. Istilah gaulnya, Adjustable Rear Wing. Artinya, sayap belakang yang bisa dibuka-tutup. Keren kan ? Cara kerjanya, hanya dengan menekan tombol di setir dan sayap belakang bagian atas akan langsung terbuka dengan kemiringan tertentu. Sama halnya KERS, alat ini juga bisa membantu overtaking. Ibaratnya, kalau KERS membantu overtaking dari interior/kekuatan mesin mobil, sementara DRS membantu overtaking dari eksterior/segi aereodinamika mobil.

Tapi, berbeda dengan KERS, DRS memiliki aturan tersendiri. DRS hanya boleh digunakan bebas selama sesi latihan dan sesi kualifikasi. Sedangkan pada saat balapan, DRS hanya boleh dipakai di sebuah tempat tertentu (disebut DRS zone, biasanya merupakan trek lurus yang sangat panjang) setelah dua lap balapan berjalan dengan syarat, ketika mobil menyentuh DRS detection area (zona sebelum DRS zone), mobil yang akan memakai DRS harus berjarak satu detik dari mobil yang ada didepannya. Alasan safety menjadi salah satu faktor mengapa aturan ini harus dibuat. DRS dikhawatirkan bisa saja membahayakan jika prosedur pemakaiannya salah. Itulah sebabnya ada aturan ketat ini.


 


Inilah DRS. Gambar atas menggambarkan kondisi sayap belakang sebelum DRS diaktifkan dan gambar bawah menggambarkan kondisi sayap belakang setelah DRS diaktifkan (lihat celahnya).

Setelah beberapa race F1 musim berjalan, terlihat jelas penggunaan KERS dan DRS sangat mempengaruhi kondisi dan situasi balapan. Overtaking banyak di sana-sini dan aksi-aksi seru pun tersaji dengan sangat mudahnya di balapan F1 musim ini. Saya bahkan pernah berpendapat bahwa KERS ditambah DRS akan menjadi sebuah kombinasi yang sangat mematikan untuk dapat meraih posisi terbaik di akhir balapan. Sejauh ini, kata-kata itu benar adanya. Keseruan F1 akan terus berlanjut hingga akhirnya pembalap yang terbaik yang dapat gelar juara dunia (walaupun setelah itu juga akan terus berlanjut).